Fuck Society

Seringkali kita selalu merasa apa yang kita dilakukan hanya untuk dinilai orang lain. We live just to be judged by others . We do things just because people want to see things.


And when people say no, then you stop.


Seringkali gua selalu berpikir kenapa ini semua bisa terjadi? Segitu kuatkah pengaruh society kedalam kehidupan kita semua? Sampai - sampai kita sendiri udah gak tahu apa yang mau kita inginkan, kita lakukan, berdasarkan kemauan sendiri.


hobi, sebuah kata yang seringkali ditanyain kepada orang, tapi banyak juga yang belum bisa menjawab karena hobi selalu dikaitkan dengan society. Banyak orang yang menemukan hobinya karena menurut orang hobi itu 'normal', tidak aneh, dan cocok dengan diri sendiri,

"oh hei what's your hobby?"  "Oh i write things , stuffs"
"Oh really? But you suck at it actually" "Well then... #sadface"

then you stop and find another things that you think suitable on you.

Sekilas emang kelihatannya mungkin itu bukan passion dia, dan orang lain ada untuk membantu mengarahkan bakat lo.
namun sekali lagi, benarkah itu semua diperlukan? You have your own brain, and your own brain controls your movement, eyes, hands, ears, mouth , all your minds and senses. So the only person who can judge you is  YOU ! Kalau lo emang suka hobi itu, even orang lain bilang lo tuh payah disitu, then just do it. Toh juga pada akhirnya lo ngelakuin itu buat kepuasan lo sendiri kan?

Justru dengan adanya border - border yang ada , lo malah membunuh dirilo sendiri secara perlahan. Slowly but sure, you become one with society, and you can't be identified as yourself with your own personality anymore.

kehilangan identitas. Mungkin berawal dari hal sepele, hobi, tapi lama kelamaan lo menjadi kehilangan identitas . berabe loh kalau sampai ini terjadi. Orang - orang yang sepandang gua menjadi orang sukses itu orang yang berkarakter, memiliki identitasnya sendiri, sehingga membuat dia menjadi diingat oleh orang lain.

So, jangan sampai society mengambil alih siapa lo sebenarnya. A friend of mine told me that if you love something, just do it . If you have interest in something, just jump into it. Let yourself drawn inside it. Lebay sih, tapi setidaknya ada yang lo tekunin untuk hiduplo.
TOH yang namanya hobi itu berdasarkan kesukaan, dan tidak harus menjadi pion utama dalam hidup.
Ingat, kita cuma bisa bermimpi ketika kita merasa senang, lepas dari beban hidup. Dan itu dilakukan dengan melakukan hobi kita.

So, tekuni hobi kalian mulai dari sekarang ! 

BUNGKAM


Bungkam
1 Maret 2035, 08.00 WIB
            Aku merasakan denyut jantungku masih berdetak. Kupakaikan ID card – ku dan aku bergegas menuju kedaerah Alun – alun utara Yogyakarta untuk meliput berita pada hari itu. Semua wartawan sudah berkumpul disana, melihat semua situasi dalam perspektif yang sama, suram. Langit saat itu sedang tidak menunjukkan wajah murungnya kepada umat manusia. Lautan abu – abu tepat berada diatasku. Suasana sepi, tidak ada penduduk satupun yang keluar dari rumahnya. Vandalisme seperti sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia dalam 3 tahun terakhir, menjadikan mereka takut untuk beraktivitas dengan normal, bahkan sebagian mengungsi ke tempat lain yang jauh dari tanah air. Coret – coretan “AGAMA ITU CANDU BAGI KAMI !”, “INDONESIA ANJING”, “KEMBALIKAN HIDUP KAMI”, dan “SEMUA SALAH PRKI” menghiasi pintu – pintu rumah dengan cat warna gelap, dan bercak hitam seperti habis terbakar dengan api menghiasi seluruh dinding permukaan alun – alun. Koran – koran bertebaran di jalanan, terbawa oleh angin.
            “IBUKOTA DISERANG. KEDAULATAN TERANCAM. PRKI MENGUASAI INDONESIA.” – Headline Media Indonesia, 5 Januari 2035.
            Aku terdiam ngeri melihat headline koran tersebut. Indonesia saat ini memang sudah diunjuk tanduk. Semenjak aku lulus dari Univertas Gadjah Mada tahun 2027, saat itu juga terdapat sebuah insiden yang menggemparkan tanah air, pembunuhan Presiden Republik Indonesia,  Ir. Prabu Siliwangi, pemimpin dari Partai Indonesia Jaya, yang memerintah semenjak tahun 2025, oleh seorang pria fanatik tak dikenal. Beliau ditembak tepat di jantung, ketika melakukan orasi di Istana Presiden beberapa waktu lalu. Pria tersebut dicurigai sebagai orang gila yang ingin memunculkan kekacauan di Indonesia, setidaknya itu yang disebarkan pemerintah kepada rakyatnya. Namun tentu saja aku tidak percaya, jelas – jelas dia menembak dengan Revolver Smith & Wesson dari jarak yang cukup jauh. Butuh kemampuan khusus untuk bisa menembak tepat di jantungnya, seperti orang yang sudah ahli. Pria tersebut sampai sekarang sudah tidak diketahui keberadaanya.
            Semenjak saat itu, Indonesia mulai memasuki jurang kehancuran. Pria yang membunuh presiden disinyalir sebagai salah satu aktivis dari PRKI. PRKI (Partai Revolusi Komunis Indonesia) mulai mengalami krisis kepercayaan, banyak pengikutnya yang kemudian diincar oleh massa, kepolisian, bahkan terjadi kasus kejahatan HAM. Para penembak misterius bermunculan untuk membunuh orang dimana saja kapan saja, yang disinyalir sebagai anggota dari PRKI. Ya, sejarah kembali terulang. Semenjak meninggalnya Ir. Prabu Siliwangi, Indonesia mengalami Vacuum of Power. Tidak lama setelah hal tersebut, munculah sosok ‘Pahlawan’ bagi republik Indonesia, calon dari Partai Indonesia Jaya. Sosok yang dikenal sebagai pemimpin pemberantas korupsi di Indonesia, anti – Komunis, serta memiliki pengaruh besar di ranah militer dan media massa, Ir. Suryaningrat Nugroho. Sosok pria yang tidak mengenal senyum ini segara mendapat dukungan keras dari berbagai pihak, termasuk rakyat sendiri untuk segara mengisi kekosongan kekuasaan di Indonesia.  PRKI semakin dalam ujung kehancuran, hingga akhirnya sang pemimpin dari PRKI, Drs. Jamal Sutiyoso melakukan ultimatum kepada pemerintah, untuk menyerang ibukota jika partai dan massanya terus menerus mendapatkan tekanan. Keadaan menjadi semakin buruk, tidak ada yang mengetahui siapa yang membantu PRKI, darimana mereka mendapatkan bantuan senjata, dana, dan sebagainya.
1 Maret 2035, pukul 10.00 WIB
            “Mas, melamun saja mas? Bahaya, jangan ditengah jalan begini.” Tiba – tiba suara yang lembut membuyarkan lamunanku. Ketengokkan wajahku ke belakang. Sosok perempuan yang manis, namun tatapan matanya yang rapuh menusuk tajam kedalam mataku.
            “Eh, ia... Ehmm.. Thanks.” Jawabku terbata – bata.
            “Dari media mana mas?”
            “Aku dari Tempo, Oh ia, namaku Amir Abraham.”
            “Oh, Tempo yah, aku dari BBC Indonesia, namaku Michelle Karienova”
Michelle memiliki perawakan yang kurus, mukanya sedikit pucat. Raut mukanya terlihat jelas seperti sedang dilanda beban yang berat, namun senyumnya tetap berusaha untuk tetap dikeluarkan.
            “Ditugasin disini juga mbak?”
            “.... Ia..” Jawabnya sedikit terhambat.
            “Ada masalah apa mbak?”
            “Eh.. enggak.. emm..”
            “Oh kalau gak mau diceritain juga enggak apa – apa mbak. Aku juga disini menunggu kabar. Katanya pemimpin PRKI, Drs. Jamal akan datang kesini untuk berorasi  kembali.”
Michelle kemudian tersenyum cerah. Kali ini senyumnya terkesan tidak dipaksakan.
            “Kamu enggak memilih ngungsi Amir? Kayak orang – orang borjuis lainnya?” Mendengar Michelle bertanya seperti itu, aku sedikit terkejut.
            “Ehh.. Ngungsi? Enggak lah ! Ini tanah air tempat aku tinggal. Seberapa buruknya masalah, aku pasti akan tinggal disini!”
Michelle mendengar jawabanku sambil tersenyum. Pandangan matanya bercampur aduk, antara iba dan kagum.
            “Aku... aku... ini hari terakhirku menjadi wartawan.”
            “Hah? Kenapa mbak?”
            “Aku, dipaksa orangtua untuk segera pindah ke Rusia besok.”
Aku terdiam sejenak.
            “Rusia? Kenapa Rusia mbak?”
            “Panggil saja aku Michelle. Yah, Ibuku adalah seorang aktivis dari PKRI, demikian juga dengan ayahku. Dan mereka telah mengungsi sudah dari setahun lalu. Aku memilih untuk tinggal disini dan menjadi pembawa fakta, seorang wartawan.”
Sepertinya ada pisau yang menusukku. Aku saat ini sedang berdiri, bercakap – cakap dengan seseorang yang baru saja membuka identitasnya sebagai musuh besar negara. Perasaanku bercampur aduk.
            “Kenapa cerita?” Tanyaku dengan hati – hati. Aku mulai membuang pandanganku.
            “Aku sudah merasa dari awal hidupku telah terenggut oleh partai – partai dan segala ideologi nya ini. Apalagi ini adalah hari terakhirku di Indonesia, dan hari terakhir aku bisa menggunakan hak-ku untuk berbicara bebas dengan leluasa seperti ini, tanpa harus mengkhawatirkan aku akan terbunuh atau terluka Mir.” Aku bisa melihat senyum tulus dari Michelle. Matanya sedikit berair. Entah sudah berapa lama dia menyimpan semua rahasia ini, dan baru bisa mengungkapkannya kepada orang yang baru saja dikenalnya. Aku mulai menarik pandanganku kepada matanya.
            “Aku tahu, kamu pasti terkejut mendengar semua ini. Tapi aku melakukan pekerjaan ini sebagai wartawan dengan tulus. Aku melakukannya bukan sebagai komunis, atau dari pihak PIJ, melainkan sebagai warga negara Indonesia yang menginginkan perdamaian...”
            “Karena memang itulah tugas wartawan..”Aku menyambung perkataanya dengan nada lembut. Kami bertatapan sejenak. Aku mulai merasakan perasaan yang aneh, entah mengapa firasatku tidak enak. Tentang aku, tentang dia, tentang Yogyakarta, tentang Indonesia. Tentang hari ini.
            ‘NGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUINGGGGGGGG’
Tiba – tiba saja terdengar suara sirine dari arah utara. Aku langsung tersadar. Kami tersadar. Aku langsung mengambil kameraku dan berlari ke arah iring – iringan mobil bernuansa merah. Ya, PKRI memang sudah datang. Situasi penuh dengan hiruk pikuk wartawan yang berlarian. Aku ikut berlari mengejar mobil tersebut. Aku sempat menoleh kebelakang, kulihat senyum yang sangat tulus dari Michelle.
1 Maret 2035 , pukul 14.00 WIB
            Drs. Jamal sudah memasuki lapangan alun – alun, diiringi dengan pengawalnya yang memakai senjata. Perawakannya yang sudah tua, namun suaranya lantang, ditambah raut mukanya yang tegas, membuatnya cukup disegani oleh bawahannya yang jauh lebih muda. Beliau berdiri diatas mimbar, mencengkram mic dengan kuatnya.
            “HIDUP REVOLUSI!” Teriaknya dengan lantang. Suaranya menggelegar keseluruh lapangan alun – alun, diikuti dengan teriakan para pengikutnya. Saat beliau sedang berorasi, aku terus memikirkan Michelle. Entah mengapa aku merasa pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan. Aku memutuskan untuk mencarinya ditengah keramaian ini. Hari itu lapangan alun – alun  menjadi lautan manusia merah, maka cukup mudah bagiku untuk mencari Michelle ditengah keramaian seperti ini, karena kami para wartawan memagai seragam wartawan masing – masing. Aku berlari mendahului orang – orang menuju pinggir lapangan, berharap mendapatkan tempat yang agak sepi untuk bisa bernafas dan beristirahat sejenak, sembari terus merantau dimana keberadaan Michelle.
            “DOOOOOOOOR !”
1 Maret 2035, pukul 14.30 WIB
            Tiba – tiba terdengar suara tembakan. Semua orang menjadi panik, tidak terkendali. Teriakan – parau terdengar seperti mengiri suara tembakan.
            “DOOOOOOOOR !”
Frekuensi tembakan menjadi semakin sering. Lapangan alun – alun menjadi penuh dengan lautan merah yang berpencar, berlarian kesana – kemari. Tidak hanya prajutrit, namun pemuda, ayah, bahkan ibu – ibu juga ikut berlarian kesana – kemari. Aku terdiam merinding. Ini merupakan kali pertamaku berada dalam situasi yang menegangkan. Siapa yang menembak? Apa yang harus kulakukan? Dimana Michelle? Semua pertanyaan itu muncul begitu saja. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berlari menjauhi lapangan alun – alun dan menuju ke jalan terdekat. Sekilas aku melihat sekelompok orang memakai penutup wajah, jaket hitam, memegang senapan, sedang menembaki semua orang yang sedang berada ditempat itu. Tidak ada tanda – tanda identitas diri.
            Baku tembak terjadi begitu dashyatnya, semua orang berlari kesana – kemari. Aku menunduk sambil terus merayap menuju keluar lapangan alun – alun. Siapakah yang menembak? Apakah pihak dari pemerintah? Inikah cara mereka, dengan kejahatan genosida?  Dimanakah Michelle? Otakku terus berpikir mencari jawaban atas semua itu, tanpa menyadari bahwa nyawaku sendiri dapat melayang di detik itu juga.            
1 Maret 2035, pukul 15.00 WIB
            Sampai detik ini nyawaku masih berada di tubuhku, diantara baku tembakan yang terjadi. Aku terus memegangi kameraku sambil menunduk, menyaksikan lapangan alun – alun yang menjadi lautan merah, dan merah darah. Aku memutuskan untuk berhenti dan mengambil foto untuk beberapa saat. Tiba – tiba tepat disamping kananku, dengan jarak kurang lebih 2 meter, aku melihat pria berjaket hitam dan bertopeng ditembak secara brutal oleh pihak PKRI. Aku terkejut, kakiku mati rasa.
            Entah insting apa yang mendorongku, hingga akhirnya aku berpikir untuk membuka topeng hitam yang menutupi wajah para penyerang ini. Siapakah mereka? Aku ragu untuk beberapa detik, memikirkan segala kemungkinan terburuk yang terjadi jika aku melakukannya. Namun kaki dan badanku tetap maju melangkah menuju mayat tersebut. Aku memberanikan diri untuk membuka topeng dan jaket hitamnya. Aku terkejut bukan main. Sebuah tanda pengenal berbentuk pin melekat di kaosnya yang berlumuran darah.
            “Blue Light?”
            Fakta yang mengejutkan . Aku terdiam. Apa itu Blue Light? Semacam organisasi yang dibentuk pihak oposisi? Aku langsung cepat – cepat mengambil pin tersebut dan berusaha untuk berlari lagi. Hingga akhirnya,
            “DOOOR..”
            Kakiku tiba – tiba tidak bisa digerakkan, mati rasa disertai rasa sakit yang luar biasa. Aku terjatuh. Aku menyangkal bahwa aku baru saja tertembak. Aku menyangkal segala kemungkinan siapa yang menembak-ku. Namun pada kenyataanya aku tertembak. Aku meringis kesakitan. Kameraku sudah terlempar ke tanah. Aku berusaha untuk merayap mengambilnya, hingga akhirnya kudengar suara orang berbicara kepadaku.
            “You shouldn’t open their mask. A Secret will be a secret.”
Aku terkejut. Dengan nafas terengah – engah, aku menengadah keatas. Kulihat seorang laki – laki, dengan perawakan besar, rambut pirang, serta memiliki aksen inggris seperti orang Amerika. Dia dengan kasarnya mengambil pin tersebut dari genggaman tanganku.
            “Let’s see. You’ve seen our identity. But don’t worry, I won’t let you die unpeacefully. So as a journalist, you must be having a great instinct about who really I am.”
            Aku tahu, inilah saatnya. Saatnya untuk berhenti berpikir, siapakah mereka sebenarnya. Saatnya untuk berpikir tentang orang lain, Indonesia, partai – partai yang berseteru, dan tentang Michelle. Aku menangis, menangis sejadi – jadinya. Aku mengetahui inilah saatnya.
            “Why you have to be so quiet? Let me explain this in a simple way. We are Blue Lights, a secret militer organization. Our mission is to wipe all form of Communism. And yeah, we are not working for your government.”
            Aku tidak terlalu memfokuskan diri mendengar perkataanya. Aku tetap menangis. Menyesal, kenapa ini semua terjadi kepada hidupku, dimana aku hanya berniat untuk menjalankan profesiku untuk tanah air ini.
            “Let just say, that we are God. And we created all these war. And your government, will be the one to be blamed.”
            Nafasku semakin cepat , kepalaku terasa berat. Pandangan mataku mulai terasa kabur. Samar – samar aku melihat dia mengeluarkan pistol dari pinggangnya.   
            “And ,you must be questioning, what the fuck are you doing in my country, what a patriotic.”
            Pria kekar itu menodongkan pistolnya ke arah kepalaku. Aku sudah tidak mau melihat wajahnya lagi. Inilah akhir dari hidupku. Inilah akhir dari perjumpaanku dengan Michelle. Dimanakah dia sekarang? Akankah dia selamat? Sesuatu sedang terjadi di tanah air kita.
            “Sorry, i won’t spoil out our goal. Have a good day in heaven kids.”
            “DOOOOR.”

TUGAS DASPEN


SURPRISE !
Malam itu , tiga sahabat berkumpul. Dana, Galih, dan Ditta. Mereka semua hendak memberikan kejutan ulang tahun temannya yang bernama Made. Semua panitia sudah berkumpul di depan rumah korban. Galih yang dari tadi berusaha bersikap ramah dan sok PDKT sama Ditta tidak bisa berhenti membayangkan apa yang akan terjadi dengan Made begitu dunia berganti hari, dan semua dimulai dari pukul 00.00 dini hari. Dana terlihat lebih tenang. Dana turun dari motornya sambil mengambil barang dari mobil Galih. Sebuah kue ulang tahun yang terbuat dari cokelat 100%, dilapisi dengan kacang almond dan lilin berbentuk angka 18. Tidak lupa Dana juga mengambil salah satu benda ritual yang sangat ditunggu – tunggu oleh Galih, 1 kardus botol bir yang siap untuk disantap semalaman. Ditta yang terlihat sibuk menyiapkan rundown acara, berusaha mengatur waktu secara tepat dan cermat, agara acara ini menjadi acara yang spesial bagi Made. Ditta-lah yang menjadi ide dari semua rencana gila ini.
            Ucapan terima kasih sudah seharusnya dihaturkan kepada Ditta, karena berkat kemampuanya dalam persuasi, pembantu keluarga Made yang ikut bersama Made ke Bali, diberi hari bebas dari bekerja untuk menikmati pulau dewata di malam hari. Maklum , pembantu ini masih tergolong berumur produktif, sekitar 30 tahun. Bahkan Ditta juga sudah meminta kunci rumah Made dari pembantunya jauh hari sebelumnya. Malam itu Ditta yang memimpin Dana dan Galih untuk menyusup masuk ke rumah Made. Sebuah rumah mewah di kawasan Kori Nuansa Utama Selatan Jimbaran ini mirip dengan rumah adat Bali. Ukiran – ukiran  yang khas memenuhi tiap ruangan, serta patung – patung dewa hampir terletak di setiap sudut ruangan. Dana terlihat agak merinding begitu memasuki rumah Made.
            Sampailah di depan kamar Made. Pintu kayu yang berwarna cokelat kehitaman itu dibuka secara pelan – pelan. Dingin-nya AC langsung merebak dari dalam kamar yang terang. Made meringkuk di dalam kasurnya seperti bayi yang sedang tertidur lelap di tengah dinginnya suhu ruangan. Nyaman sekali. Langsung saja Galih yang sudah membawa ember berisikan air dari kamar mandi langsung mendekati ranjang, lalu mengguyur Made yang sedang tertidur pulas. Seketika itu juga rasa dingin yang amat menusuk seluruh tulang Made, diiringi dengan rasa terkejut dan berteriak kedinginan. Made sudah terbangun. Sepintas dilihatnya 3 temannya yang sudah membawa kue ulang tahun dengan lilin yang sudah menyala. Made masih setengah tersadar. Ditta tersenyum, sambil mendekatkan kue tersebut ke Made yang sudah basah kuyup. Made masih saja setengah tersadar, namun kali ini emosinya mulai mereda. Sebuah senyum kecut tersirat di wajah Made. Begitu sudah menerima kenyataan yang sedang terjadi di dunia nyata, bahwa ini hari ulang tahunnya, Dana yang entah kapan sudah  duduk di kasur, segera menutup mata Made dengan sebuah kain hitam pekat. Lalu Galih berusaha menggendong Made keluar dari ruang bawah tanah di rumahnya. Semua tertawa sambil menyanyikan lagu ulang tahun. Semua tertawa, tidak untuk Made. Made berteriak sekuat – kuatnya , memaki temannya, memohon untuk tidak melakukan hal yang satu ini. Makian terus berlanjut, bahkan Made sampai ingin menangis. Namun semua itu percuma.
            Dengan mata tertutup Made merasakan aroma kayu dan benda usang di sekitarnya. Ini adalah ruang bawa tanah. Mata Made masih tertutup oleh kain hitam. Setelah Made diturunkan, Galih langsung mendorong Made hingga terjatuh dari tangga bawah tanah. Galih langsung mengunci pintu kamar bawah tanah. Semua tertawa, tidak untuk Made. Dengan tangan gemetar, Made langsung membuka ikatan kain hitam di matanya. Gelap. Masih gelap. Made merasakan kegelapan total di dalam dirinya, dan lingkungan sekitarnya. Dengan sayup – sayup terdengar suara – suara temannya yang sedang tertawa jauh dari sana.
            “ANJING ELO SEMUA ! BUKA PINTUNYA BANGSAT ! GUA TAKUT  ! WOI ! BENERAN BUKA PINTUNYA ! .... PLEA...PLEA...SE.. GUA TAKUT BANGET !” Teriakan yang disertai oleh isak tangis sekeras – kerasnya sudah dikerahkan oleh Made. Tidak ada yang mendengar. Semuanya gelap. Mereka tertawa, tidak untuk Made. Made yang amat panik langsung bersusah payah ke tangga bawah tanah, menggedor pintu sekeras mungkin.
BAM BAM BAM BAM !
            “BUKA PINTUNYA PLEASE TEMAN ! GUA MOHON !” Dentuman dari pintu bawah tanah sangat keras. Terdengar amat jelas oleh Ditta, Dana, dan Galih. Dana merasa dentuman ini tidak normal. Seperti seseorang yang sangat kuat yang mendetumnya. Orang yang memiliki tenaga yang amat besar. Ditta mulai merasa panik dan kasihan, sambil gemetar melihat ke arah. Galih yang masih berada di kamar Made untuk memakan kue ulang tahun , memainkan Macbook milik Made. ‘Nyctophobia : Phobia of the Dark’, begitulah apa yang terdapat di layar ketika Galih menyentuh Macbook tersebut. “If your nyctophobia is severe, you might become angry or defensive if anyone tries to encourage you to spend time in the dark.” Menyadar ada sesuatu yang tidak beres, Galih langsung berlari ke bawah untuk memberitakan hal yang penting kepada Dana dan Ditta.
            Dentuman dari pintu masih terasa sangat keras, bahkan ritme nya semakin bertambah. Teriakan dari Made semakin menjadi – jadi. Namun kali ini sesuatu yang sangat tidak masuk akal terjadi. Teriakan yang terdengar sangat melengking melebihi range vocal dari Made. Dan seketika itu juga Made berteriak dengan suara yang sangat rendah. Keadaan semakin tidak terkendali. Galih yang kaget bukan main langsung berinisiatif untuk membuka pintu kamar bawah tanah.
            “JANGAN GAL ! JANGAN !” Dana langsung berteriak sambil mencegah Galih maju.
            “MINGGIR ELO NYET ! ENGGAK LIHAT TEMAN KITA BEGITU? DIA PHOBIA GELAP !”
            “TAHU DARI MANA ? “
            “GUA HABIS LIHAT DI LAPTOPNYA !DIA  BROWSING TENTANG NYCTOPHOBIA.”
            “LO MASIH MERASA ITU PHOBIA? INI UDAH DILUAR KEWAJARAN ! LO DENGERIN TERIAKANNYA !”
            Keadaan menjadi semakin kacau. Ditta menangis. Dana dan Galih terlihat sangat bingung dan kacau. Di tengah kebingungan, tiba – tiba Ditta menerima BBM.
            “Ditta ! Sampaikan maaf gua ke Dana dan Galih ya! Gua mendadak balik ke Jakarta. Soalnya ada keluarga yang balik ke Jakarta. Besok kita main – main lagi yak !” – Aditya Made Nyoman.
            Ditta sangat terkejut melihat BBM tersebut. Keadaan menjadi semakin kacau dan rumit. Suara dentuman dari dalam pintu bawah tanah sudah berhenti. Kemudian terdengar suara tawa yang amat berat dari dalam pintu. Ditta tahu itu waktunya bagi mereka bertiga bahwa malam ini akan menjadi malam yang panjang.

mendaki gunung lewati maut

maba adalah sebuah kata baru dalam KUBI yang berartikan "norak" , "cupu" , serta makna negatif lainnya dalam kehidupan perkuliahan.
dalam sebuah kalimat , bisa dituliskan seperti ini

"norak banget sih dek, maba ya ?"
atau
"jadi maba gak usah belagu deh !"

memang dalam siklus kehidupan itu seperti bola. Kadang di atas, kadang di bawah, kadang kelempar. Dan sayapun bingung mendiskripsikan status sosial maba ini berada di kasta mana dalam dinamika kehidupan perkuliahaan. antara yang dibawah, atau yang kelempar.
yang jelas, semua orang pasti pernah menjadi maba. dan saya sedang mengalami masa itu.

seperti  yang sudah saya ceritakan sebelumnya, maba harus mengalami apa yang namanya makrab, atau di sebagian jurusan menjadi inisiasi, atau bahasa halus dari "pembantaian" , bisa dikatakan seperti itu. saya disini berbicara bukan sebagai maba yang sotoy, atau belagu karena habis di makrab. tapi saya hanya mengutarakan apa yang saya alami sebelumnya. :D

makrab yang dikemas dalam bentuk great camping 2011 yang diadakan di tempat yang menurut saya cukup angker , wonogondang, berjalan lancar, walau ada beberapa hambatan. Saya bersyukur mendapatkan kelompok yang isinya asyik, saling mendukung, dan kompak.
perasaan sebelum makrab  : tegang, pasrah.

*Day 1*
pagi itu gua harus bangun jam 5 pagi, jujur saat itu gua juga gak bisa tidur lantaran cemas dan takut. kepikiran? banget. bagaimanapun caranya gua harus pergi ke kampus bersama warga komunikasi lainnya dari asrama tanpa membawa kendaraan pribadi di waktu seperti itu. Syukurlah Tuhan mencipatakan alat transportasi bernama taksi. Bermodalkan patungan, akhirnya gua sampai di tempat tujuan.
seperti biasa, komdis sudah mulai beraksi di pagi hari.
gua mulai berpikir kenapa komdis bisa nahan masang muka jutek selama kurang lebih 1 bulan penuh. tanpa ketawa , tanpa senyum di depan semua maba .

dengan bermodalkan seluruh perlengkapan, maka gua siap berangkat ke wonogondang !

"kalian akan pergi ke wonogondang dengan kendaraan yang amat spesial !" kata kakak angkatan gua,
ternyata mereka baik sekali menyewa alphard 100 biji buat maba.

tidak.

di depan sudah tersedia truk brimob untuk dinaiki mendaki gunung lewati lembah menuju tempat eksekusi, wonogondang. yah memang, setidaknya lebih baik daripada ketika gua live in dulu harus menaiki gunung di wonosari menggunakan truk sampah, lalu naik di atasnya dan mobil dijalankan dalam keadaan yang terik. Dimana jika ada pohon dengan berdahan rendah kita semua harus menundukkan kepala, serta menahan panasnya sinar matahari...

pengalaman buruk.
walaupun begitu, tetap saja truk brimob ini memberikan kesan bahwa gua akan melakukan latihan militer. gua hanya bisa berdoa kepada yang kuasa.
"LARI KELILING GUNUNG DEK ! CEPETAN !"
atau
"TEMBAK TARGETNYA DEK ! GIMANA SIH MASA GAK BISA?"

begitulah kira kira bayangan makrab gua begitu melihat kendaraan militer yang menjemput.
***
hari berjalan sangat lama . begitu sampai di tempat, gua mulai melakukan trekking mendaki gunung lewati lembah. di hari yang cukup panas tersebut, gua mulai menyusuri gunung disana. terdapat 5 pos.
pos pertama bernuansa 17 agustus. dimana gua harus mengambil koin yang diselipkan di pepaya dan harus diambil menggunakan mulut saja.
dan pepaya tersebut dilapisi kecap asin.

kecap asin..



oli.

dan oli tersebut tidak boleh dihapus / dicuci sampai pos berikutnya, jika ketahuan dihapus, maka komdis akan bertindak. oke, daripada gua disetrika komdis, lebih baik menjadi maba yang baik hati dan tidak sombong. ada satu hal yang menarik disini,

"koin nya jangan dibuang ya, karena ini koin emak gua"
begitu gua menarik salah satu koin, gua reflek masih menggigit koin tersebut di mulut gua..
"eh koin nya sini dek ! itu koin emak gua !"

lalu begitu semua koin sudah dikeluarkan dan bertebaran di rumput
"aduh koin emak gua pada kemana nih.."

aduh kak, sayang banget sama koin emaknya. tahu gitu jangan dipake game deh kakak. saran dari maba ini.
***
lanjut ke pos 2, terdapat pemberhentian pertama dari salah satu komdis. Komdis kece. #eh . waktu gua berhenti, disuruh menyanyikan yel dan jargon.

kebetulan kelompok gua sailormoon, jadi jargon gua adalah
"SAILORMOON ! DENGAN KEKUATAN BULAN!" cukup sampai disitu. komdis gua merasa ada yang janggal.

"kenapa gak pake 'akan menghukum mu' dek?"
1 kelompok pada terdiam
oke, untuk kali ini jawaban yang terbesit di otak gua adalah
"itu kak ! kan sailormoon nya masih maba, jadi gak boleh ngehukum orang"

*suasana hening sesaat*
"ya udah kalian boleh pergi ke pos berikutnya"
"makasih kak.!"
tapi dengan begonya temen gua malah ngomong
"yuk kak !"

"HEH, gila lo ! masa ngajak komdis ikutan trekking ?" lalu kami kabur ke pos berikutnya. komdis gua terlihat cukup speechless mendengar perkataan itu
oke gua lulus pemberhentian komdis pertama. masih banyak pos menanti. mana pemandu gua pake lupa jalan. gua sangat berharap gua tidak nyasar ke kawah gunung merapi . karena salah satu jalan yang gua lalui sepertinya adalah bekas dari lava merapi tersebut.

selama perjalanan menuju pos - pos berikutnya, ada satu teman gua yang sangat berbakat menjadi tour guide. setiap kita ngomongin satu topik yang penting sampai gak penting, maka teman gua yang satu ini akan memberikan penjelasan baik secara empiris, faktual, serta mendeskripsikan berdasarkan fakta yang ada dan diketahui oleh masyarakat secara umum.

"eh itu gunung merapi ya?"
"ia itu gunung merapi! jadi gunung merapi itu dulunya..." oke teman gua udah mulai berceloteh

"eh ini sungai kenapa jadi banyak lumpur?"
"ia ini karena lava kemarin kan? lava itu terdiri dari..." oke temen gua beraksi lagi

dan teman gua yang satu ini juga aneh
"aduh ken itu air minum aman gak buat diminum? aku gua takut ken."
tapi 5 menit kemudian
"ayo ken ! tambah lagi airnya .ada yang mau gak? mau gua ambil lagi nih masukin ke botol !" ........

ajaib memang
***
setelah berbasah - basahan dengan game yang menuntut medan basah - basahan, mendaki tebing lewati hutan dan bebatuan, gua sampai di pos terakhir .
"basah - basahan sudah, jilat oli sudah, pegel udah, capek udah, teriak - teriak sambil jalan udah, kepentung ember juga udah. kira - kira pos terakhir apa ya? apakah itu pos dimana semua komdis akan berkumpul dan gua akan dilempar ke kawah merapi?"

tidak seburuk itu memang. tapi ini juga tidak kalah buruknya.
sewaktu gua sampai di tempat pos terakhir. terdapat beberapa botol air minum dengan warna mencolok, hijau, cokelat, transparan. gua sudah mulai lemas. apakah ini tempat pembantaian indera perasa, yaitu lidah kita?

"kalian pilih nomor 1 sampai 5 , dua nomor yak!"
lalu terpilihlah angka 3 sampai 5.
2 minuman super pun dikeluarkan, salah satunya berwarna hijau dan satunya berwarna kecoklatan tersebut.
tidak mungkin kan itu diiberi racun dan maba meninggal seketika? sepertinya itu terlalu jahat. tapi apakah itu? gua berharap itu hanyalah sebatas jus sawi , dan yang cokelat.... entahlah.

dan ketika gua rasakan yang berwarna hijau...

muntah

air mata mengalir seketika. namun sebagai ketua kelompok, gua harus menghabiskan agak lebih banyak. bukan karena alasan ketua yang arif, melainkan kalau gua disuruh ngabisin gua ada alibi (licik)

dan minuman itu adalah : jus pete.
gua gak bisa bayangin nafas gua udah begimana, yang jelas saat itu yang gua butuhkan adalah relaxa 5 kg, coca cola 3 kg, serta doa dari Tuhan.

setelah meminum ramuan mematikan tersebut, gua yang udah agak lega melaksanakan jatah gua masih lupa bahwa ada satu minuman lagi. jus mengkudu.
RIP nafas gua.

***
ingin sekali rasanya setelah minum jus pete tersebut gua menyapa semua kakak angkatan gua yang baik hati dan mengobrol mereka seharian penuh, tanpa memakai slayer ataupun masker untuk menutup mulut gua. bukankah itu merupakan bentuk konkret maba yang baik hati ?
yang jelas pengalaman seperti itu pastinya tidak akan gua ulangi (dan gak akan mau gua ulangi) sampai gua tua nanti . kecuali gua jadi maba lagi. amit2 deh .

great camping 2011. emang oke:D

PROduktif

Menjadi mahasiswa produktif menjadi dambaan kehidupan tiap maba  (seharusnya) yang masih sadar bahwa tujuan doi merantau adalah untuk menuntut ilmu, bukan untuk berfoya - foya menghabiskan uang mama papa . Sanking produktifnya sampai - sampai mengikuti semua UKM yang ada, mengambil SKS sebanyak mungkin, lalu mengikuti berbagai acara kepanitiaan yang berlangsung, dan kalau bisa juga sambil melakukan magang.

dengan melakukan semua itu, dijamin kata ini yang akan keluar dari mulut saya : BULLSH1T

tapi yang namanya dambaan produktif memang menjadi hak siapa saja, termasuk saya. Menjadi mahasiswa yang (kebetulan) produktif dalam satu minggu full ini, karena semua dosen mulai sadar akan pekerjaanya dan mulai membutuhkan suatu pengakuan kedaulatan dan keeksisan mahasiswa dalam mengikuti pelajaran nya, sebuah tugas.

tugas tugas mulai bermunculan . banyak banyak menjadi gunung ( melawan pepatah sedikit - dikit menjadi bukit ) . Wahai anak HI yang membaca postingan ini , kami dari anak komunikasi juga mendapatkan tugas kok. bikin paper juga, bikin resume juga, bikin review juga. Kami juga mempelajari politik, even pada dasarnya gua benci politik (tapi dulu pengen masuk HI, minta disetrika pake fixie ya) . Mungkin kalian bertanya kenapa anak komunikasi kenapa begitu keluar dari kampus selalu berbeda jauh dengan anak HI .

mari kita mulai analisis dari sudut pandang maba.
sepenglihatan gua anak HI kalau keluar dari kampus begitu nongkrong di lapangan sansiro, pasti selalu membawa laptop , sibuk membawa buku , dan kelihatan sekali sangat 'mahasiswa', membahas tugas yang diberikan. setidaknya itu yang gua liat di maba HI .

sedangkan sepenglihatan gua melihat anak komunikasi keluar dari kampus begitu nongkrong di lapangan sansiro, pasti selalu membawa snack, sibuk membawa makanan, dan kelihatan sekali sangat 'pengangguran, membahas gosip gosip terkini sambil duduk makan ketawa ketiwi tralalalililili .

tapi gak selamanya gitu sih. tergantung ke persepsi mahasiswanya lagi . ini kan hanya analisis dari sudut pandang maba yang sotoy yang sebentar lagi akan menghadapi makrab kan, hehe :D

dan ngomong - ngomong produktif. hari ini jujur merupakan hari terproduktif gua . dimana kuliah jam 9 untuk mengerjakan tugas dari makrab,

membuat video Sailormoon. Oh sailormoon, melihat pose poster sailormoon jaman sekarang, gua mulai berpikir ini cewek - cewek yang pake rok mini kemana - mana kenapa gak diprotes sama F0ke dari dulu ya ? kan doi doi pada pake rok pendek, gak minta diperkosa itu ? #eh
disamping pembuatan video sailormoon, gua juga harus membuat buku tugas dengan (lagi) gambar sailormoon di depan cover buku tugas yang gua bikin. dan inilah malu yang gua rasakan.

*di tukang fotokopi*
"mbak , saya mau ngejilad tugas saya dong"
........................ diam sebentar
"jilad?"
......................... diam sebentar
"eh jilid mbak maksudnya !"
"oh jilid, coba saya liat mana yang dijilid?"

lalu dengan santainya gua keluarkan rangkaian kardus dan kertas yang hendak akan dijilid menggunakan pita tersebut plus terpampang gambar sailormoon dengan berbagai pose di depan kardusnya. gua sangat yakin mbak yang ngeliat tugas gua ini agak gimana gitu ngeliat gua masih mengoleksi gambar gambar sailormoon. ya kali mbak, itu buku tugas, bukan kumpulan poster sailormoon.

untung saja jogja merupakan surga tempat fotokopi dan ngeprint 24 jam . kota ini benar - benar kota mahasiswa, selain banyak universitas, tapi juga tempat - tempat buat mendukung kegiatan kemahasiswaan , seperti tempat nongkrong 24 jam yang banyak dan murah, tempat clubbing , bioskop xxi yang dekat dengan asrama, restoran enak dan murah... eh kegiatan kemahasiswaan ya?

berarti maksud gua tempat fotokopi 24 jam, warnet 24 jam, dan jangan salah. disini juga surga dvd vcd software bajakan, warnet nya jg bisa mendownload film - film box office yang kita mau. dan gua sudah menjadi satu diantara puluhan mahasiswa yang sudah menikmatinya.. oke kan ?

akhirnya setelah urusan sailormoon tersebut, gua bisa pulang ke asrama dengan tenang, dan melanjutkan kembali tugas gua -____________-. produktif juga kan ?