Bungkam
1 Maret 2035, 08.00 WIB
Aku merasakan denyut jantungku masih berdetak. Kupakaikan ID card – ku dan aku bergegas menuju kedaerah Alun – alun utara Yogyakarta untuk meliput berita pada hari itu. Semua wartawan sudah berkumpul disana, melihat semua situasi dalam perspektif yang sama, suram. Langit saat itu sedang tidak menunjukkan wajah murungnya kepada umat manusia. Lautan abu – abu tepat berada diatasku. Suasana sepi, tidak ada penduduk satupun yang keluar dari rumahnya. Vandalisme seperti sudah menjadi bagian dari budaya Indonesia dalam 3 tahun terakhir, menjadikan mereka takut untuk beraktivitas dengan normal, bahkan sebagian mengungsi ke tempat lain yang jauh dari tanah air. Coret – coretan “AGAMA ITU CANDU BAGI KAMI !”, “INDONESIA ANJING”, “KEMBALIKAN HIDUP KAMI”, dan “SEMUA SALAH PRKI” menghiasi pintu – pintu rumah dengan cat warna gelap, dan bercak hitam seperti habis terbakar dengan api menghiasi seluruh dinding permukaan alun – alun. Koran – koran bertebaran di jalanan, terbawa oleh angin.
“IBUKOTA DISERANG. KEDAULATAN TERANCAM. PRKI MENGUASAI INDONESIA.” – Headline Media Indonesia, 5 Januari 2035.
Aku terdiam ngeri melihat headline koran tersebut. Indonesia saat ini memang sudah diunjuk tanduk. Semenjak aku lulus dari Univertas Gadjah Mada tahun 2027, saat itu juga terdapat sebuah insiden yang menggemparkan tanah air, pembunuhan Presiden Republik Indonesia, Ir. Prabu Siliwangi, pemimpin dari Partai Indonesia Jaya, yang memerintah semenjak tahun 2025, oleh seorang pria fanatik tak dikenal. Beliau ditembak tepat di jantung, ketika melakukan orasi di Istana Presiden beberapa waktu lalu. Pria tersebut dicurigai sebagai orang gila yang ingin memunculkan kekacauan di Indonesia, setidaknya itu yang disebarkan pemerintah kepada rakyatnya. Namun tentu saja aku tidak percaya, jelas – jelas dia menembak dengan Revolver Smith & Wesson dari jarak yang cukup jauh. Butuh kemampuan khusus untuk bisa menembak tepat di jantungnya, seperti orang yang sudah ahli. Pria tersebut sampai sekarang sudah tidak diketahui keberadaanya.
Semenjak saat itu, Indonesia mulai memasuki jurang kehancuran. Pria yang membunuh presiden disinyalir sebagai salah satu aktivis dari PRKI. PRKI (Partai Revolusi Komunis Indonesia) mulai mengalami krisis kepercayaan, banyak pengikutnya yang kemudian diincar oleh massa, kepolisian, bahkan terjadi kasus kejahatan HAM. Para penembak misterius bermunculan untuk membunuh orang dimana saja kapan saja, yang disinyalir sebagai anggota dari PRKI. Ya, sejarah kembali terulang. Semenjak meninggalnya Ir. Prabu Siliwangi, Indonesia mengalami Vacuum of Power. Tidak lama setelah hal tersebut, munculah sosok ‘Pahlawan’ bagi republik Indonesia, calon dari Partai Indonesia Jaya. Sosok yang dikenal sebagai pemimpin pemberantas korupsi di Indonesia, anti – Komunis, serta memiliki pengaruh besar di ranah militer dan media massa, Ir. Suryaningrat Nugroho. Sosok pria yang tidak mengenal senyum ini segara mendapat dukungan keras dari berbagai pihak, termasuk rakyat sendiri untuk segara mengisi kekosongan kekuasaan di Indonesia. PRKI semakin dalam ujung kehancuran, hingga akhirnya sang pemimpin dari PRKI, Drs. Jamal Sutiyoso melakukan ultimatum kepada pemerintah, untuk menyerang ibukota jika partai dan massanya terus menerus mendapatkan tekanan. Keadaan menjadi semakin buruk, tidak ada yang mengetahui siapa yang membantu PRKI, darimana mereka mendapatkan bantuan senjata, dana, dan sebagainya.
1 Maret 2035, pukul 10.00 WIB
“Mas, melamun saja mas? Bahaya, jangan ditengah jalan begini.” Tiba – tiba suara yang lembut membuyarkan lamunanku. Ketengokkan wajahku ke belakang. Sosok perempuan yang manis, namun tatapan matanya yang rapuh menusuk tajam kedalam mataku.
“Eh, ia... Ehmm.. Thanks.” Jawabku terbata – bata.
“Dari media mana mas?”
“Aku dari Tempo, Oh ia, namaku Amir Abraham.”
“Oh, Tempo yah, aku dari BBC Indonesia, namaku Michelle Karienova”
Michelle memiliki perawakan yang kurus, mukanya sedikit pucat. Raut mukanya terlihat jelas seperti sedang dilanda beban yang berat, namun senyumnya tetap berusaha untuk tetap dikeluarkan.
“Ditugasin disini juga mbak?”
“.... Ia..” Jawabnya sedikit terhambat.
“Ada masalah apa mbak?”
“Eh.. enggak.. emm..”
“Oh kalau gak mau diceritain juga enggak apa – apa mbak. Aku juga disini menunggu kabar. Katanya pemimpin PRKI, Drs. Jamal akan datang kesini untuk berorasi kembali.”
Michelle kemudian tersenyum cerah. Kali ini senyumnya terkesan tidak dipaksakan.
“Kamu enggak memilih ngungsi Amir? Kayak orang – orang borjuis lainnya?” Mendengar Michelle bertanya seperti itu, aku sedikit terkejut.
“Ehh.. Ngungsi? Enggak lah ! Ini tanah air tempat aku tinggal. Seberapa buruknya masalah, aku pasti akan tinggal disini!”
Michelle mendengar jawabanku sambil tersenyum. Pandangan matanya bercampur aduk, antara iba dan kagum.
“Aku... aku... ini hari terakhirku menjadi wartawan.”
“Hah? Kenapa mbak?”
“Aku, dipaksa orangtua untuk segera pindah ke Rusia besok.”
Aku terdiam sejenak.
“Rusia? Kenapa Rusia mbak?”
“Panggil saja aku Michelle. Yah, Ibuku adalah seorang aktivis dari PKRI, demikian juga dengan ayahku. Dan mereka telah mengungsi sudah dari setahun lalu. Aku memilih untuk tinggal disini dan menjadi pembawa fakta, seorang wartawan.”
Sepertinya ada pisau yang menusukku. Aku saat ini sedang berdiri, bercakap – cakap dengan seseorang yang baru saja membuka identitasnya sebagai musuh besar negara. Perasaanku bercampur aduk.
“Kenapa cerita?” Tanyaku dengan hati – hati. Aku mulai membuang pandanganku.
“Aku sudah merasa dari awal hidupku telah terenggut oleh partai – partai dan segala ideologi nya ini. Apalagi ini adalah hari terakhirku di Indonesia, dan hari terakhir aku bisa menggunakan hak-ku untuk berbicara bebas dengan leluasa seperti ini, tanpa harus mengkhawatirkan aku akan terbunuh atau terluka Mir.” Aku bisa melihat senyum tulus dari Michelle. Matanya sedikit berair. Entah sudah berapa lama dia menyimpan semua rahasia ini, dan baru bisa mengungkapkannya kepada orang yang baru saja dikenalnya. Aku mulai menarik pandanganku kepada matanya.
“Aku tahu, kamu pasti terkejut mendengar semua ini. Tapi aku melakukan pekerjaan ini sebagai wartawan dengan tulus. Aku melakukannya bukan sebagai komunis, atau dari pihak PIJ, melainkan sebagai warga negara Indonesia yang menginginkan perdamaian...”
“Karena memang itulah tugas wartawan..”Aku menyambung perkataanya dengan nada lembut. Kami bertatapan sejenak. Aku mulai merasakan perasaan yang aneh, entah mengapa firasatku tidak enak. Tentang aku, tentang dia, tentang Yogyakarta, tentang Indonesia. Tentang hari ini.
‘NGUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUINGGGGGGGG’
Tiba – tiba saja terdengar suara sirine dari arah utara. Aku langsung tersadar. Kami tersadar. Aku langsung mengambil kameraku dan berlari ke arah iring – iringan mobil bernuansa merah. Ya, PKRI memang sudah datang. Situasi penuh dengan hiruk pikuk wartawan yang berlarian. Aku ikut berlari mengejar mobil tersebut. Aku sempat menoleh kebelakang, kulihat senyum yang sangat tulus dari Michelle.
1 Maret 2035 , pukul 14.00 WIB
Drs. Jamal sudah memasuki lapangan alun – alun, diiringi dengan pengawalnya yang memakai senjata. Perawakannya yang sudah tua, namun suaranya lantang, ditambah raut mukanya yang tegas, membuatnya cukup disegani oleh bawahannya yang jauh lebih muda. Beliau berdiri diatas mimbar, mencengkram mic dengan kuatnya.
“HIDUP REVOLUSI!” Teriaknya dengan lantang. Suaranya menggelegar keseluruh lapangan alun – alun, diikuti dengan teriakan para pengikutnya. Saat beliau sedang berorasi, aku terus memikirkan Michelle. Entah mengapa aku merasa pertemuan ini bukanlah sebuah kebetulan. Aku memutuskan untuk mencarinya ditengah keramaian ini. Hari itu lapangan alun – alun menjadi lautan manusia merah, maka cukup mudah bagiku untuk mencari Michelle ditengah keramaian seperti ini, karena kami para wartawan memagai seragam wartawan masing – masing. Aku berlari mendahului orang – orang menuju pinggir lapangan, berharap mendapatkan tempat yang agak sepi untuk bisa bernafas dan beristirahat sejenak, sembari terus merantau dimana keberadaan Michelle.
“DOOOOOOOOR !”
1 Maret 2035, pukul 14.30 WIB
Tiba – tiba terdengar suara tembakan. Semua orang menjadi panik, tidak terkendali. Teriakan – parau terdengar seperti mengiri suara tembakan.
“DOOOOOOOOR !”
Frekuensi tembakan menjadi semakin sering. Lapangan alun – alun menjadi penuh dengan lautan merah yang berpencar, berlarian kesana – kemari. Tidak hanya prajutrit, namun pemuda, ayah, bahkan ibu – ibu juga ikut berlarian kesana – kemari. Aku terdiam merinding. Ini merupakan kali pertamaku berada dalam situasi yang menegangkan. Siapa yang menembak? Apa yang harus kulakukan? Dimana Michelle? Semua pertanyaan itu muncul begitu saja. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berlari menjauhi lapangan alun – alun dan menuju ke jalan terdekat. Sekilas aku melihat sekelompok orang memakai penutup wajah, jaket hitam, memegang senapan, sedang menembaki semua orang yang sedang berada ditempat itu. Tidak ada tanda – tanda identitas diri.
Baku tembak terjadi begitu dashyatnya, semua orang berlari kesana – kemari. Aku menunduk sambil terus merayap menuju keluar lapangan alun – alun. Siapakah yang menembak? Apakah pihak dari pemerintah? Inikah cara mereka, dengan kejahatan genosida? Dimanakah Michelle? Otakku terus berpikir mencari jawaban atas semua itu, tanpa menyadari bahwa nyawaku sendiri dapat melayang di detik itu juga.
1 Maret 2035, pukul 15.00 WIB
Sampai detik ini nyawaku masih berada di tubuhku, diantara baku tembakan yang terjadi. Aku terus memegangi kameraku sambil menunduk, menyaksikan lapangan alun – alun yang menjadi lautan merah, dan merah darah. Aku memutuskan untuk berhenti dan mengambil foto untuk beberapa saat. Tiba – tiba tepat disamping kananku, dengan jarak kurang lebih 2 meter, aku melihat pria berjaket hitam dan bertopeng ditembak secara brutal oleh pihak PKRI. Aku terkejut, kakiku mati rasa.
Entah insting apa yang mendorongku, hingga akhirnya aku berpikir untuk membuka topeng hitam yang menutupi wajah para penyerang ini. Siapakah mereka? Aku ragu untuk beberapa detik, memikirkan segala kemungkinan terburuk yang terjadi jika aku melakukannya. Namun kaki dan badanku tetap maju melangkah menuju mayat tersebut. Aku memberanikan diri untuk membuka topeng dan jaket hitamnya. Aku terkejut bukan main. Sebuah tanda pengenal berbentuk pin melekat di kaosnya yang berlumuran darah.
“Blue Light?”
Fakta yang mengejutkan . Aku terdiam. Apa itu Blue Light? Semacam organisasi yang dibentuk pihak oposisi? Aku langsung cepat – cepat mengambil pin tersebut dan berusaha untuk berlari lagi. Hingga akhirnya,
“DOOOR..”
Kakiku tiba – tiba tidak bisa digerakkan, mati rasa disertai rasa sakit yang luar biasa. Aku terjatuh. Aku menyangkal bahwa aku baru saja tertembak. Aku menyangkal segala kemungkinan siapa yang menembak-ku. Namun pada kenyataanya aku tertembak. Aku meringis kesakitan. Kameraku sudah terlempar ke tanah. Aku berusaha untuk merayap mengambilnya, hingga akhirnya kudengar suara orang berbicara kepadaku.
“You shouldn’t open their mask. A Secret will be a secret.”
Aku terkejut. Dengan nafas terengah – engah, aku menengadah keatas. Kulihat seorang laki – laki, dengan perawakan besar, rambut pirang, serta memiliki aksen inggris seperti orang Amerika. Dia dengan kasarnya mengambil pin tersebut dari genggaman tanganku.
“Let’s see. You’ve seen our identity. But don’t worry, I won’t let you die unpeacefully. So as a journalist, you must be having a great instinct about who really I am.”
Aku tahu, inilah saatnya. Saatnya untuk berhenti berpikir, siapakah mereka sebenarnya. Saatnya untuk berpikir tentang orang lain, Indonesia, partai – partai yang berseteru, dan tentang Michelle. Aku menangis, menangis sejadi – jadinya. Aku mengetahui inilah saatnya.
“Why you have to be so quiet? Let me explain this in a simple way. We are Blue Lights, a secret militer organization. Our mission is to wipe all form of Communism. And yeah, we are not working for your government.”
Aku tidak terlalu memfokuskan diri mendengar perkataanya. Aku tetap menangis. Menyesal, kenapa ini semua terjadi kepada hidupku, dimana aku hanya berniat untuk menjalankan profesiku untuk tanah air ini.
“Let just say, that we are God. And we created all these war. And your government, will be the one to be blamed.”
Nafasku semakin cepat , kepalaku terasa berat. Pandangan mataku mulai terasa kabur. Samar – samar aku melihat dia mengeluarkan pistol dari pinggangnya.
“And ,you must be questioning, what the fuck are you doing in my country, what a patriotic.”
Pria kekar itu menodongkan pistolnya ke arah kepalaku. Aku sudah tidak mau melihat wajahnya lagi. Inilah akhir dari hidupku. Inilah akhir dari perjumpaanku dengan Michelle. Dimanakah dia sekarang? Akankah dia selamat? Sesuatu sedang terjadi di tanah air kita.
“Sorry, i won’t spoil out our goal. Have a good day in heaven kids.”